News

Bangga Jadi Anak Indonesia, Vokal Group “Garam Nada” Ketuk Hati Semua Golongan

Jakarta – Ditengah-tengah krisis kebangsaan dan munculnya berbagai kegelisahan serta keprihatinan terhadap persoalan sosial yang melanda bangsa Indonesia akhir-akhir ini, Ansambel Musik/Vokal Group “Garam Nada” mencoba mengetuk semua pihak untuk tergugah hatinya melalui lagu-lagu.

Didalam penampilannya yang kesekian kalinya ini, Ansambel Musik/Vokal Group “Garam Nada” hadir ditengah-tengah mahasiswa untuk mengingatkan kembali bangganya menjadi orang Indonesia dan memberikan pemahaman akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan, rasa kasih, rasa sayang dan rasa cinta sesama dan tanah air Indonesia, dalam perbedaan dan keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan, tetap satu hati dan satu rasa membangun Indonesia, sehingga tidak mudah terpecah belah/terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dan pihak-pihak yang tidak ingin rakyat Indonesia aman, sejahtera dan semakin jaya.

“Lagu-lagu berkarkter artinya lewat lagu-lagu yang saya ciptakan ini bertujuan dapat memasukan nilai-nilai positif kehidupan, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia untuk dapat membangun karakter, rasa bangga menjadi anak Indonesia,” ungkap Pimpinan Ansambel Musik/Vokal Group “Garam Nada” Drs. Boanerges Rismanto Aris Wibowo saat tampil di Hotel Sofyan Betawi, Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (2/12/2017).

Disamping lewat nyanyian berkaraker, lanjut Aris Wibowo, pihaknya juga selalu membiasakan diri untuk selalu menggelorakan yel-yel rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan dengan penuh semangat, diantaranya adalah pertama “Siapa Kita ? Saya Pancasila, Saya Indonesia, Kita Semua Bersaudara”, “Adakah NKRI di hatimu? Ada”, “Adakah Bhineka Tunggal Ika selalu bergetar di dadamu ? Ada”, “Adakah Rasa Persatuan dan Kesatuan selalu ada di hatimu ? Ada”, “Adakah Semangat Menggapai Cita-cita, Selalu ada di hatimu? Ada”.

Tak hanya itu, Aris Wibowo mengingatkan bahwa lagu-lagu Perjuangan dan lagu-lagu Daerah Seluruh Nusantara yang merupakan kekayaan budaya Indonesia harus selalu dijaga dan dilestarikan. “Dengan mempelajari dan menyanyikannya, kami ingin mewujudkannya,” sebutnya.

Dia juga menceritakan asal usul nama Garam Nada. Kata dia, berawal dari pengalaman pribadi sebagai anak desa yang masih polos dan sederhana, waktu itu ia masih di kelas 3 SD, sangat termotivasi karena ucapan tulus dari seorang guru, yang memberikan kata pujian saat dirinya menyanyi di depan teman-temannya. Berawal dari sini, sambung Aris, ternyata dapat memberikan power, dorongan yang luar biasa pada dirinya, dari yang 2 kali tidak naik kelas saat itu, semenjak mendapat motivasi yang sederhana tersebut ia mengaku bisa meraih paling tidak urutan 3 besar sampai di tingkat SLTA, bahkan di SLTA pernah mendapatkan beasiswa Supersemar.

Dari pengalaman yang sederhana dan dari keinginan dari hati yang tulus, lewat kegiatan seni/musik dirinya ingin selalu memberikan dorongan, semangat, motivasi pada siswa untuk dapat menemukan rasa percaya dirinya yang tinggi sebagai modal untuk mampu memotivasi dirinya dari dalam hatinya sendiri dalam mengikuti proses kegiatan aktivitas belajar mengajar yang menyenangkan sehingga bisa lebih maksimal hasilnya, dan didalam proses meraih masa depannya.

Masih kata Aris, mengapa dinamakan Garam Nada? Apa makna Garam Nada ? Apa hubungannya Garam dengan Nada ? Garam dalam hal ini merupakan barang sederhana yang sangat-sangat terjangkau harganya untuk seluruh lapisan masyarakat. Garam terdapat di mana-mana di rumah rakyat jelata sampai di Istana Negara, di warung-warung kecil sampai di restoran ternama di seantero dunia. Garam barang sederhana yang memiliki manfaat yang luar biasa mulai dari penyedap rasa, penggugah selera, semahal apapun bahan makannanya, tanpa garam terasa hambar rasanya.

Semantara Nada, kata dia adalah bunyi /suara yang memiliki frekuensi /getaran yang teratur. Dan Ansambel merupakan permainan musik secara bersama-sama untuk memadukan berbagai nada menjadi suara yang harmonis enak didengar, dirasa dan indah dipandang mata, yang dapat menyegarkan jiwa, mengobati duka lara, bagi dirinya maupun yang mendengarkannya.

“Jadi Ansambel Musik “Garam Nada“ adalah suatu wadah yang terbuka untuk siapa saja tanpa mengenal perbedaan usia, latar belakang sosial, ekonomi, suku, agama dan budaya untuk bersama-sama belajar mengolah rasa dan karsa dalam vocal dan permainan berbagai alat musik yang berbeda yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
%d bloggers like this: